Wednesday, May 22, 2019

Ramadhan Masa Kecil 90an : Berburu Tanda Tangan Pak Uztad

Tulisan ini untuk memenuhi tantangan 30 hari kebaikan Blogger Perempuan Network di bulan Ramadhan, dan Alhamdulillah sudah memasuki hari ke 17 dengan tema
"Ramadhan Masa Kecil".

Sumber : idntimes.com

Bismillah, tema kali ini akan membuat saya dan penulis challenge lainnya akan bernostalgia dengan masa kecil yaitu masa yang paling menyenangkan dan membahagiakan dalam hidup saya,
yang tidak akan pernah terulang masa dimana sebagai anak kecil saya tidak harus memusingkan banyak soal kecuali hanya bermain dan bermain lagi.

Masa kecil saya hingga kelas 2 sekolah dasar saya habiskan di Kota Makassar.
Setelah itu saya pindah ke kampung halaman bapak saya, Bulukumba.
Yang jaraknya kurang lebih 150 km dari kota Makassar.

Saya lupa persis sejak umur berapa tahun orangtua sudah mengajarkan saya berpuasa, yang jelas dalam ingatan saya yaitu jika puasa saya bisa full akan ada hadiahnya.

Kebetulan waktu itu saya dan orangtua masih tinggal di kompleks asrama Arhanudri Wirabuana Makassar (semoga saya tidak salah ingat nama asramanya 😅).
Saya dan adek saya yang hanya terpaut satu tahun itu jadi partner sekaligus teman berantem saya, dan kami berdua punya banyak teman sesama anak kompleks.

Dan saat setelah akan masuk waktu shalat isya kami pun beramai-ramai datang kemesjid yang lokasinya berada ditengah kompleks dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kami.

Yang masih saya ingat dengan jelas, saat shalat rakaat awal-awal kami semua masih husyuk mengikuti gerakan imam dan makmum yang lain tapi setelah beberapa lama, namanya juga anak-anak kami akan bermain dan berlarian menginjak-injak sajadah makmum yang sementara shalat.

Keseruan lainnya yaitu main kembang api setelah salat isya, yang biasanya akan diselingi dengan tausiah singkat sebelum dilaksanakan shalat tarawih.

Juga yang masih bisa saya ingat dengan baik, saya sering tertidur dimesjid disamping mama menunggu hingga shalat witir selesai atau jika tidak mengantuk saya sering bermain lompat dari tegel ke tegel mesjid sendirian.

Setelah pindah ke kampumg halaman bapak, keseruan masa kanak saya masih berlanjut.
Dan saya sudah duduk dibangku kelas 3 SD.
Oh iya teman, sebetulnya saya sedikit bingung dengan batasan masa kecil itu hingga umur berapa, menurut teman pembaca sendiri masa kecil teman sampai umur berapa, komen di kolom komentar yah ??

Pengalaman puasa di kampung itu, saya mulai ikut kegiatan pesantren kilat disekolah dan ada pembagian buku kegiatan ramadhannya.

Sumber : idntimes.com

Nah dalam buku kegiatan ramadhan itu, berisi seluruh kegiatan kita selama berpuasa 30 hari.
Selain itu, setiap siswa juga harus selalu membawa buku kegiatan ramadhannya tiap shalat tarawih dimesjid dan jangan lupa isi judul ceramah, nama pembawa ceramahnya plus yang tidak boleh kelupaan yaitu paraf atau tanda tangan pak uztadnya, hehehe ini masa yang paling seru menurut saya.  

Sumber : idntimes.com

Jaman masih kecil dulu ada sebuah sinetron ramadhan yang pemerannya itu mba Krisdayanti, ini favorit mama saya nih, cuma lupa sama judulnya pokoknya sinetronnya cukup terkenal saat itu (Doaku Harapanku kalau tidak salah).

Selain itu, juga ada sinetron ramadhan buat anak, favorit saya judulnya saya lupa tapi pemeran utamanya itu Dedi mizwar. Sinetron ini sangat sarat akan nilai kebaikan, mengenai seorang anak yang tinggal di Jakarta kemudian dibawa oleh orangtuanya ke kampung di rumah kakeknya dan disitulah keseruannya berlangsung.

Program sahur yang selalu ditonton, ada Artis Ulfa sama Eko patrio, suasananya kayak orang lagi siaran radio.
Semenjak itu, dua pelawak ini jadi pelawak favorit saya.

Masa anak-anak memang masa yang paling seru dan tidak akan pernah terlupakan buat saya pribadi.
Suasana buka puasa dan sahur bersama Bapak dan Mama adalah masa yang paling saya rindukan, apalagi masakan mama yang selalu enak dilidah saya.

BPN30DAYRAMADHANCHALLENGE
DAY17





2 comments:

  1. wkwkwkwkw, ini mah anak saya tahun lalu hahaha
    Mereka setiap malam berburu ttd imam dan khatib.
    Terus pernah sekali ada yang nanya, kalau tarawihnya di masjid al Akbar gimana?
    Bisa pingsan tuh imamnya gak pulang semalaman karena kudu ttd buku ratusan mungkin ribuan anak hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gitu ya mba rey..soale anak tetangga saya sekolah dasar kelas 5 buku kegiatan ramadhannya di paraf sama bapaknya sendiri, saya pikir jaman sudah berubah ehehe

      Delete