Saturday, September 14, 2019

Kete' Kesu Wisata di Tana Toraja


Kete Kesu

Kete Kesu, warisan sejarah dan budaya dunia.
Berkunjung ke Tana Toraja merupakan pengalaman yang kedua kalinya bagi saya. Sebelumnya waktu masih jaman kuliah dulu dengan mata kuliah Tata Guna Lahan, saya bersama teman seangkatan berkeliling Kota Rantepao dengan berjalan kaki untuk mensurvey lokasi yang menjadi tugas kelompok saya.

Tiga hari lamanya saya dan teman-teman berada di Toraja, dua hari untuk tugas kuliah dan dihari ketiga untuk jalan-jalan.

Dan Kete' Kesu merupakan salah satu tujuan wisata kami waktu itu, sekitar tahun 2008.
Tak disangka sebelas tahun kemudian saya kembali ke tempat ini dan bersama keluarga.

Tidak banyak yang berubah dari tempat ini.
Hanya deretan toko kecil penjual souvenir yang bertambah panjang deretannya.
Daaan naluri belanja sayapun tidak bisa ditahan lagi, ehehehe.




Jika dulu saya sangat bersemangat mengambil gambar bersama teman, sekarang giliran suami saya yang sangat bersemangat berfoto dengan tengkorak-tengkorak yang ada di dalam goa yang ada disana, karena ini merupakan kunjungan pertamanya ke Tana Toraja.

 

Masyarakat Tana Toraja memang memiliki keunikan tersendiri dalam hal mengurus mayat keluarga mereka yang sudah meninggal. Dan Desa Kete Kesu merupakan sebuah kompleks yang dijadikan makam para bangsawan.
Selain itu, juga terdapat peninggalan purbakala berupa kuburan batu yang diperkirakan telah berusia 500 tahun lebih.
Dan fyi, kawasan ini juga pernah meraih predikat "Kampung Adat Terpopuler" pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) pada tahun 2017 lalu.

Deretan rumah tongkonan di
Kete

Selain itu, Kete Kesu saat ini oleh UNESCO, telah menjadi kawasan cagar budaya dunia yang juga sebagai pusat berbagai upacara adat Toraja yang meliputi pemakaman adat yang dirayakan dengan meriah atau biasa dikenal dengan Rambu Solo, upacara memasuki rumah adat baru atau Rambu Tuka serta berbagai ritual adat lainnya.

Peti mayat yang tergantung yang
 tertutupi semak belukar yang bergantung

Deretan rumah adat khas Toraja atau biasa disebut rumah tongkonan menjadi daya tarik utama di kawasan wisata ini.
Terdapat 6 tongkonan dan 12 lumbung pada (alang sura) yang usianya juga ratusan tahun.

Menurut info Tongkonan yang berada di Kete Kesu berasal dari leluhur Puang Ri Kesu dan merupakan salah satu tongkonan layuk tua di Toraja yang memiliki peran dan fungsi sebagai sumber pemerintahan dan kekuasaan adat di wilayahnya pada masa lampau.

Alang sura dan pemakaman yang telah berumur ratusan tahun didalamnya terdapat kuburan gantung, kuburan dalam gua alam (Liang Lo'ko'), kuburan modern (Patane) dan peti mati tradisional yang dihias dengan ukiran (Erong).
Erong bentuk kepala babi diperuntukkan bagi jenazah perempuan dan keplaa kerbau untuk jenazah laki-laki.
Inilah bentuk erong pertama dan kemudian berkembang bentuk-bentuk lainnya.
Ada banyak tulang dan tengkorak dalam erong, juga terdapat patung (tau-tau) dari jenazah yang dikuburkan di Kete Kesu.


Hmmm menarik bukan, tertarik untuk berkunjung ke sini jika berada di Tana Toraja yang menurut info dari kawasan kete kesu ini juga yang merupakan cikal bakal sejarah keberadaan masyarakat Toraja.
Biaya masuk di kawasan ini yaitu Rp.15.000/orang.

Berjalan-jalan ke kawasan ini akan menambah pengetahuan kita akan sejarah peradaban dunia di masa lampau dengan melihat benda-benda peninggalan serta jika waktunya pas kita akan melihat ritual ratusan tahun yang tetap dilestarikan oleh masyarakat sekitar.

No comments:

Post a Comment