Saturday, September 28, 2019

Mengembangkan Imajinasi Anak dengan Gemar Berliterasi

Literasi dalam keluarga dan Masyarakat


Hal yang paling saya suka dari kegiatan membaca adalah ketika saya mampu membayangkan atau membangun gambaran visual di dalam kepala saya sendiri terhadap apa yang saya baca.
Dan belakangan baru saya ketahui bahwa membaca menjadi sarana yang baik untuk melatih daya imajinasi.
Selain itu, karena dengan membayangkan sesuatu dalam kepala kita akan menunjukkan sejauh mana kita memahami akan sesuatu hal tersebut, maka proses membayangkan atau berimajinasi menjadi sesuatu yang mengasyikkan dari kegiatan membaca.

Berpikir adalah berimajinasi. Kenapa kita bodoh adalah bukan karena kita dilahirkan bodoh, namun karena kita tidak mau menyenangi budaya berpikir atau budaya berimajinasi.

Karena itu juga membaca menjadi penting bagi otak karena akan melatih pikiran dengan berusaha membayangkan sesuatu ke dalam otak kita hingga terjadi pelatihan imajinasi.

Selanjutnya bagaimana dengan budaya membaca di Negara kita tercinta Indonesia?
Ada banyak data yang memperlihatkan mengenai minat baca masyarakat mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Seperti halnya data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang memperlihatkan bahwa tingkat melek huruf di pedesaan dan perkotaan sebagai berikut :



Data BPS lain menunjukkan 90,27% anak usia sekolah suka menonton televisi dan hanya 18,94% yang suka membaca.
Jenis buku bacaan uang sering dibaca yaitu Iptek 5%, Pelajaran 9%, Ragam Ilmu 12%, Majalah dan Surat kabar 13%, Rohani 22%, Komik atau Novel 39%.



Selain data dari BPS ada juga data lain yang menyatakan bahwa budaya membaca di Indonesia sangat rendah, salah satunya berdasarkan data dari Most Littered Nation In The World, yaitu merupakan penelitian untuk mengetahui seberapa tinggi minat baca negara-negara di dunia yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) maret 2016 lalu, memperlihatkan Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara mengenai minat membaca.


Namun hal tersebut sedikit mendapat kritikan dari sebagian kecil masyarakat kita.
Melihat dari kriteria yang CCSU gunakan untuk mengetahui seberapa tinggi atau rendahnya minat baca suatu negara yaitu perpustakaan, peredaran surat kabar, pemerataan pendidikan dan ketersediaan komputer.

Salah satu kriteria yaitu perpustakaan, mereka mengambil data berdasarkan jumlah kunjungan ke perpustakaan dan hasilnya kunjungan perpustakaan di Indonesia sangat rendah.
Berdasarkan data dari Jakarta Open Data saja, pengunjung Perpustakaan Umum Daerah Jakarta tidak sampai 500 ribu pengunjung pertahun, padahal penduduk Jakarta kurang lebih sekitar 10 juta orang.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga Singapura, jumlah pengunjung Perpustakaan Nasional Singapura mencapai 26 juta pengunjung pada tahun 2017, berdasarkan data dari situs web National Library of Singapore.
Namun ada hal yang unik, menurut informasi dari Republika.co.id Perpustakaan Nasional yang punya program peminjaman buku secara online ternyata cukup diminati masyarakat.
Satu buku elektronik saja bahkan bisa mempunyai jumlah antrian peminjam hingga 500 orang.
Hal ini menunjukkan kalau orang Indonesia memiliki minat baca yang tinggi, tetapi hanya saja malas ke perpustakaan yang bisa disebabkan banyak hal misalnya ketersediaan buku elektronik atau mungkin jarak dari rumah yang cukup jauh.

Selanjutnya dapat juga kita lihat pada pameran buku "Big Bad Wolf" pada tahun 2016 jumlah pengunjungnya mencapai 250 ribu orang, angka ini melebihi target sebanyak 100 ribu pengunjung.
Ditahun 2018 jumlah pengunjung meningkat hingga 750.000 pengunjung, dan melampaui target 700 ribu orang.
Tingginya jumlah kunjungan dan banyaknya buku yang terjual diantaranya disebabkan harga buku yang dijual termasuk murah, banyak buku yang mendapat potongan diskon 60% hingga 80%, tidak terkecuali buku anak.


Selain itu, bazar buku Big Bad Wolf ini juga dapat dimanfaatkan sebagai ajang berburu buku murah namun berkualitas bersama keluarga.

Meningkatkan Peran Keluarga dan Masyarakat dalam
 Menumbuhkan Minat Baca Sejak Usia Dini

Sedikit bercerita, sejak masih kanak-kanak saya sudah sangat suka membaca buku.
Dan orangtualah yang telah mengantarkan saya menjadi pribadi yang gemar membaca buku.
Saya masih ingat dengan jelas sewaktu masih kanak-kanak, ketika ibu saya membelikan sebuah paket buku lengkap bersama crayonnya, sebuah paket buku bacaan yang seru dan besarnya seukuran dengan kertas A2.
Isi bukunya mengajarkan tentang angka dan huruf untuk diwarnai sesuai temanya, ada tema buah, binatang, sayuran, sekolah, transportasi dan masih banyak lagi.
Dan sejak saat itu saya tertarik dengan buku apa saja untuk saya baca dengan gambar yang full color.

Berlanjut masa kuliahpun saya termasuk tipe orang yang lebih suka membaca sebuah buku atau novel dibanding menonton film yang telah diadaptasi dari sebuah novel.

Novel tetralogi Laskar pelangi (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov) karya Andrea Hirata merupakan salah satu contoh dari beberapa film yang novelnya telah saya baca jauh hari sebelum novel tersebut disajikan dalam sebuah film layar lebar.
Dan ternyata masih jauh lebih informatif dan menyenangkan sensasi yang saya dapatkan dari kegiatan membaca novel ketimbang menonton filmnya.
Alasan saya sederhana, karena ada banyak kejadian yang disajikan dalam sebuah novel begitu difilmkan ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi atau imajinasi saya selama proses membaca itu.
Selain itu yang paling penting adalah dalam sebuah bacaan novel akan banyak kita temukan quote motivasi yang tidak semuanya akan kita temukan saat menonton filmnya.

Sekilas merupakan sedikit kisah atau pengalaman saya yang telah gemar membaca buku sejak masih kanak-kanak hingga dewasa berkat peran lingkungan keluarga utamanya ibu saya.

Dan apa saja beliau telah lakukan hingga membentuk saya sebagai generasi yang gemar membaca ?

Yang saya ingat, Ibu saya tidak pernah memaksa saya untuk membaca, beliau hanya lebih sering membelikan banyak buku bergambar yang menarik hingga saya tertarik untuk membacanya atau beliau juga sering mengajak saya berbelanja ke toko buku dan memberi saya kebebasan untuk memilih sendiri buku yang saya sukai.
Terdengar mudah untuk dipraktekkan.

Literasi dalam keluarga dan masyarakat

Dan setelah menjadi seorang ibu, ternyata hal tersebut bukan perkara yang mudah untuk dipraktekkan di era digital seperti sekarang ini.
Hadirnya berbagai perangkat elektronik seperti Laptop dan Smartphone ternyata lebih menarik perhatian anak-anak, tidak terkecuali ke tiga anak saya.

Sehingga sebagai seorang ibu, saya harus lebih ekstra kerja keras lagi agar anak-anak saya yang sedang dalam masa pertumbuhan bisa lebih suka membaca buku dibandingkan bermain gadget.
Kerjasama dengan suami adalah dasar utama bagi saya menyukseskan program gemar membaca dalam lingkungan keluarga kami.
Sebetulnya tidak ada yang salah dari kehadiran Laptop dan Smartphone, sama halnya dengan semua benda penemuan terkenal lainnya di dunia ini, semua ada dua mata sisinya yaitu sisi baik dan sisi buruknya.
Karena itu peran keluarga sangat besar pengaruhnya bagi pembentukan karakter dan kebiasaan anak agar bisa cinta dengan membaca.
Dimulai dari hal kedisiplinan, peran orangtua akan menjadi sangat berarti.
Mendisiplinkan buah hati dengan jadwal kegiatan yang tidak boleh mereka abaikan, merupakan hal sepele namun akan berarti besar dalam pembentukan karakter anak ketika dewasa nanti.
Setelah dari lingkungan yang paling kecil yaitu keluarga, lebih spesifik lagi dari didikan seorang ibu yang sekiranya merupakan sekolah atau madrasah pertama bagi anaknya, bagaimana dengan lingkungan di luar rumah atau masyarakat ?

Berinteraksi dengan masyarakat bagi anak usia sekolah bisa dimulai dari lingkungan masyarakat kecil salah satunya yaitu sekolah.
Kegiatan mengikuti berbagai macam lomba seperti lomba pidato, lomba debat, lomba karya tulis ilmiah merupakan salah satu kegiatan berliterasi yang akan membuat siswa banyak melakukan kegiatan membaca dan menulis untuk menyusun konsep pidato yang akan dibawakan, begitu juga halnya dengan menyiapkan materi lomba debat dan menyiapkan materi karya tulis ilmiah dari berbagai sumber, tentunya akan membuat siswa menjadi sangat sibuk dengan kegiatan literasi mereka.

Setelah sekolah, lingkungan lebih luas lagi yaitu masyarakat.
Seringnya diadakan berbagai kegiatan literasi seperti halnya lomba bercerita dan kegiatan mendongeng.
Anak dapat mengekspresikan keterampilannya dalam kegiatan lomba bercerita.


Gerakan Literasi Nasional

Sebetulnya, ada banyak program yang telah pemerintah kita lakukan untuk meningkatkan minat baca di Indonesia. Salah satunya program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang saat ini tengah diperkenalkan secara luas kepada masyarakat guna memaksimalkan peran keluarga dan masyarakat dalam meningkatkan minat baca dan literasi yaitu melalui Gerakan Literasi Nasional.
Program ini sekiranya menjadi #Sahabatkeluarga dan #Literasikeluarga bagi seluruh keluarga Indonesia.


Sudah tahukah sahabat blogger sekalian dengan apa itu Gerakan Literasi Nasional atau yang biasa disingkat GLN.

Gerakan Literasi Nasional merupakan sebuah program dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia guna untuk meningkatkan kegiatan gemar membaca dan literasi bagi masyarakat Indonesia khususnya bagi generasi penerus bangsa, sehingga diharapkan kedepannya negara kita dapat memiliki Sumber Daya Manusia yang berkualitas tinggi dan berdaya saing di dunia Internasional melalui kegiatan yang tidak bisa kita anggap sepele yaitu Membaca dan banyak kegiatan literasi menarik lainnya.

Terdapat enam aspek yang menjadi fokus utama dari Gerakan Literasi Nasional ini, yaitu :

1. Literasi Baca-Tulis



 Kemampun membaca dan menulis menjadi sangat penting, alasannya berdasarkan beberapa hal berikut :
    • Meningkatkan kreatifitas dan imajinasi
    • Meningkatkan rasa empati
    • Meningkatkan konsentrasi dan fokus
    • Mengurangi stress
    • Meningkatkan kemampuan berbahasa dan memperkaya kosakata
    • Sebagai kunci mempelajari ilmu pengetahuan
    • Sebagai hiburan
Kegiatan literasi baca tulis berupa penyusunan materi saat anak mendapat tugas sekolah untuk menyusun naskah lomba pidato, khotbah jum'at, lomba bercerita dan lain-lain yang membuat anak mengalami proses berliterasi membaca dan menulis mandiri.

2. Literasi Numerasi



Adapun komponen dalam Literasi Numerasi yaitu :
  • Menggunakan pengukuran
  • Mengestimasi dan menghitung bilangan bulat
  • Menggunakan pecahan, desimal, persen dan perbandingan
  • Mengenali dan menggunakan pola relasi
  • Menggunakan penalaran spasial
  • Menginterpretasi informasi statistik
Perbedaan Literasi Numerasi dan Matematika dapat dilihat pada gambaran pernyataan berikut ini :
Jika sebuah minibus memuat 12 orang dan ada 40 orang yang akan bertamasya. Ada berapa bus yang diperlukan agar semua orang bisa terangkut dengan menggunakan bus ?

Dalam Matematika, 40:12=3, sisa 4 atau jika dalam bentuk desimal 3,333... 
Dan jika dibulatkan adalah 3. Sehingga bus yang dibutuhkan adalah 3.

Dalam Numerasi, 40:12=3, sisa 4 atau 3,333...(desimal).
Agar semua orang yang ingin bertamsya bisa terangkut menggunakan bus, dibutuhkan 4 bus.


3. Literasi Sains





Seringkali anggapan mengenai ilmu sains berpijak pada pelajaran yang sulit, padahal sains adalah pengetahuan yang mempelajari tentang obyek alam dan fisik yang ada disekitar ana atau bahkan seringkali justru menarik perhatian anak (misalnya percobaan gunung meletus dengan media peralatan yang ada di rumah atau juga di sekolah)

Dan jika orangtua jeli terhadap hal-hal seperti hujan, petir, air, udara, hewan, tumbuhan bahkan dirinya sendiri merupakan langkah awal untuk menarik perhatian anak pada dunia sains.

4. Literasi Finansial




Finansial berasal dari kata finance yang berarti keuangan, sehingga dengan memahami literasi finansial, maka kita akan mampu :

  • Memilih dan memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan yang tepat dan sesuai kebutuhan
  • Memahami manfaat dan resiko produk dan layanan jasa keuangan
  • Merencanakan keuangan lebih baik
  • Dapat terhindar dari kegiatan investasi pada instrumen keuangan yang tidak jelas
Literasi finansial bagi anak dapat diajarkan dengan mengatur keuangan dengan baik, misalnya dengan menyisihkan sedikit uang yang dimilikinya untuk ditabung dan menjelaskan manfaat apa saja yang dapat diperoleh dengan menabung.


5. Literasi Digital




Saat ini kita berada pada jaman era digital, berbagai informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah, arus informasi seakan tidak ada filternya.
Dalam kondisi seperti ini, para orangtua tidak bisa menghindarinya dan yang bisa para orangtua lakukan adalah menghadapi era digital dengan bijak dan paling tidak mampu mengoperasikan alat digital agar bisa mendampingi anak dalam menggunakan internet dan media sosial secara bijaksana.


Berbagai transformasi alat digital 
  
Dan setelah banyak membaca mengenai apa saja yang dapat kita lakukan sebagai orangtua lakukan dalam menyikapi kehadiran perangkat digital dan internet yang telah mulai menarik perhatian anak-anak, dan berikut beberapa langkah bijak yang dapat kita lakukan dari dalam rumah.
  • Orangtua mampu mengarahkan penggunaan internet atau perangkat digital sesuai usia dan tahap perkembangan anak
  • Orangtua mampu menyeimbangkan penggunaan internet atau perangkat digital dengan dunia nyata seperti berkegiatan di luar ruangan dan bersosialisasi
  • Meminjamkan anak perangkat digital sesuai keperluan anak dan tetap dalam pengawasan orangtua
  • Memilihkan program/applikasi yang positif dan bernilai edukasi bagi tumbuh kembang anak.
  • Bijak dalam menggunakan perangkat digital atau internet, misalnya menggunakan komputer di tempat yang mudah dilihat dan tidak menggunakan perangkat digital saat berinteraksi dengan orang lain.
  • Menelusuri kegiatan anak di dunia maya
  • Selalu dampingi dan awasi anak saat menggunakan perangkat digital atau internet
6. Literasi Budaya dan Kewargaan



Melalui Literasi Budaya dan Kewargaan, orangtua dapat menjelaskan pada anak mengenai keberagaman suku, budaya, adat dan bahasa yang ada di Indonesia. 
Mengajarkan nilai toleransi akan perbedaan yang ada disekitarnya, seperti perbedaan bahasa, keyakinan hingga menghargai perbedaan ras.




Sebuah ungkapan sederhana namun sarat akan makna dari Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia Muhammad Hatta, menggambarkan bahwa betapa buku memiliki peran besar dalam membuka wawasan dan gambaran kita akan dunia luar yang dapat membuat kita berpetualang dan menjelajah banyak tempat tanpa harus beranjak dari tempat duduk kita.


Referensi :
1. www.sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id
2. www.kemdikbud.go.id 'Mendidik Anak di Era Digital'
3. www.bps.go.id
4. www.teras.id 'Big Bad Wolf Beli Dulu Baca Belakangan'
5. www.bisnis.tempo.co '70 Persen Buku di Big Bad Wolf 2018 Untuk Anak'
6. www.appletreebsd.com 'Cara Asyik Mengenalkan Sains Pada Anak'
7. www.tirto.id 'Big Bad Wolf Jadi Ajang Rekreasi Keluarga'
8. Youtube channel indonesiabaik.id 'Gerakan Literasi Nasional Strategi Giatkan Minat Baca'















1 comment:

  1. Kebiasaan membaca pada anak berangkatnya dari orang tuanya dulu ya..karena gimana-gimana anak tuh mengikuti kebiasaan (apa yang dilihat) dari perilaku orang tuanya.

    Thank you for sharing mba,, jadi makin semangat buat naikkin target baca bukunya biar anaknya juga hobi baca :)

    ReplyDelete