Sunday, October 13, 2019

Bukan Sekedar Konflik Rasialisme, Film The Hate U Give


The Hate U Give, Kebencian yang kalian berikan....

Film The Hate U Give menyajikan tontonan yang menarik, mengangkat isu yang sensitif tetapi sangat penting dan terjadi dalam kehidupan kita.
Isu soal rasialis yang sering dialami oleh kaum sosial kulit hitam memang tak bisa dipungkiri terus ada hingga saat ini. Adanya diskriminasi dan perlakuan berbeda hanya karena warna kulit yang berbeda juga masih sering terjadi.
Film menarik ini diangkat dari sebuah novel karya Angie Thomas dengan judul yang sama dan film ini menjadi sangat menarik untuk ditonton karena menyajikan berbagai macam konflik menarik dari kehidupan seorang Starr Charter.

Keluarga Charter
Starr Charter merupakan seorang gadis kulit hitam keturunan Afrika Amerika yang tinggal di lingkungan Garden Heights, lingkungan yang dikenal sering terjadi pertikaian antar geng bahkan sering terjadi aksi penembakan.
Sejak kecil Starr sudah harus menyaksikan penembakan temannya saat tengah asyik bermain bersama, tiba-tiba saja sebuah tembakan berasal dari sebuah mobil tanpa basa basi langsung menembaki seorang temannya hingga tewas seketika.

Sadar akan lingkungan tempat tinggal yang tidak aman, Ibu starr yang berprofesi sebagai seorang perawat di sebuah rumah sakit memilih untuk menyekolahkan Starr dan kedua saudara laki-lakinya bernama Seven dan Sekani di sekolah yang jauh dari lingkungan tempat tinggal mereka, Willianston merupakan sebuah sekolah dengan mayoritas murid berkulit putih dengan predikat sekolah unggul.

Willianstone sekolah dengan
mayoritas murid berkulit putih
Disekolahnya Ia memiliki seorang kekasih berkulit putih yang tampan dan tulus mencintai starr tanpa melihat perbedaan diantara mereka, bernama Chriss dan dua orang teman akrabnya yang juga berkulit putih yang pada akhir cerita mereka terlibat konflik hingga akhirnya harus mengakhiri hubungan pertemanan mereka yang penyebabnya starr merasa temannya telah bertindak rasialis kepadanya.

Starr dan kedua temannya
Starr memiliki seorang ayah yang bernama Maverick Charter, yang merupakan seorang mantan pengedar narkoba yang pernah dipenjara selama tiga tahun dan banyak memiliki masa lalu yang kelam lainnya.
Memiliki badan dengan otot lengan yang kekar dengan tatto menghiasi lengannya, sekilas terlihat sangat sangar namun setelah menjalani kehidupan normal dalam kehidupan rumah tangganya, Maverick Charter ternyata memiliki hati selembut malaikat.
Kehidupan normal sebagai mantan pengedar narkoba dijalaninya dengan hidup bahagia bersama istri dan ketiga anaknya dan setiap harinya Ia sibuk mengurusi sebuah mini market miliknya.
Starr dan kedua saudara laki-lakinya banyak mendapat didikan berharga dari ayahnya mengenai pentingnya untuk jangan pernah menyerah akan sesuatu yang mereka yakini kebenarannya dan juga untuk selalu menghargai dan membela kepentingan kaum sesama mereka.

Konflik dalam kehidupan Starr dimulai ketika teman masa kecilnya yang telah beranjak remaja bernama Khalil Harris harus mati terbunuh setelah ditembak oleh seorang polisi berkulit putih dan Starr merupakan saksi kunci satu-satunya yang mengtahui persis kejadian sebenarnya yang menurutnya polisi tersebut telah bertindak rasialis terhadap Khalil.

Malam saat kejadian penembakan itu, Khalil berencana mengantarkan Starr untuk pulang setelah menghadiri sebuah pesta.
Ditengah perjalanan pulang mobil yang mereka kendarai dicegat oleh sebuah mobil patroli polisi, dan menyuruh mereka untuk segera menepikan mobilnya.
Merasa tidak melakukan kesalahan apapun, Khalilpun ogah-ogahan saat diinterogasi polisi tersebut, ternyata karena tidak menyalakan lampu sein saat berbelok yang menjadi penyebab mobil mereka dicegat polisi tersebut.
Setelah menghampiri mobil Khalil dan meminta SIM dan STNK miliknya, Khalil diperintahkan oleh sang polisi untuk mengangkat kedua tangannya sembari memerintahkannya untuk tidak bergerak, sementara polisi tersebut kembali ke mobilnya untuk memeriksa SIM milik Khalil.
Tetapi yang kemudian terjadi, Khalil tidak menuruti perintah polisi untuk tidak bergerak, dengan sedikit menunduk bermaksud memeriksa keadaan Starr yang sedari tadi panik di dalam mobil dan mengambil sebuah sisir yang Ia sisirkan kerambutnya, tapi kemudian polisi tersebut tiba-tiba menembaki Khalil yang memegang sebuah sisir yang dikiranya adalah senjata api.
Starr yang menyaksikan kejadian itu terlihat sangat ketakutan.

Dan setelah kejadian malam yang menyedihkan bagi starr itu, sulit baginya untuk melanjutkan kembali hidupnya, beruntungnya Ia memiliki keluarga yang selalu menyemangatinya utamanya sang ayah.

Orangtua Starr berusaha untuk menutupi jati diri anaknya yang merupakan saksi kunci dalam penembakan itu, karena mereka berpikir hal tersebut dapat membahayakan nyawa anaknya, berhubung masalah tersebut sangat sensitif setelah sebelumnya telah terjadi beberapa kali penembakan yang dilakukan oleh polisi berkulit putih terhadap warga berkulit hitam yang kental dengan isu rasialis.
Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama karena banyaknya aksi protes warga kulit hitam yang menuntut keadilan terhadap oknum polisi yang telah menembaki Khalil serta berita di media massa juga sudah memberitakan kejadian itu memaksa Starr harus berbicara demi keadilan terhadap sahabatnya Khalil.

Akhirnya seorang pengacara yang ditunjuk oleh keluarga Khalil menemui Starr agar dapat bersaksi didepan dewan juri dalam persidangan untuk menuntut keadilan agar polisi yang menembaki Khalil mendapat hukuman.

Sebelum bersaksi didepan dewan juri, starr ternyata harus memberikan pernyataan terlebih dahulu melalui sebuah wawancara di stasiun televisi, dan ternyata hal tersebut justru menimbulkan konflik lainnya lagi yaitu seorang ketua geng pengedar narkoba  yang kemudian terbongkar keberadaannya setelah pengakuan starr ditelevisi membuatnya sering mendapatkan ancaman dari Kinglords.7

Namun sayang setelah perjuangan panjang Starr, pengacara dan aksi protes warga harus berakhir dengan kekecewaan karena hasil persidangan ternyata tidak menuntut sang polisi dan dinyatakan bebas.

Buntut dari hasil persidangan yang dirasa tidak adil itu menimbulkan aksi protes besar-besaran oleh warga kulit hitam dan bentrokan antara peserta aksi dengan polisipun akhirnya pecah.
Situasi menjadi sangat kacau dan tidak terkendali mulai dari  pembakaran mobil hingga penembakan gas air mata untuk membubarkan massa tidak terhindarkan lagi.
Starr yang juga ikut serta dalam aksi tersebut memilih untuk menghindar dari kekacauan tersebut dengan mendatangi mini market milik ayahnya untuk mencari tempat bersembunyi dan mendapatkan perlindungan.
Namun sayang ketika berada di mini market milik ayahnya, Kinglords datang dan membakar mini market tersebut sembari mengunci pintu belakang agar Starr tidak bisa keluar.

Beruntungnya beberapa warga kulit putih yang melihat kebakaran tersebut menolong Starr hingga dapat keluar dari toko yang terbakar tersebut setelah sang ayah datang dan membuka kunci pintu belakang.
Dan puncak dari film ini yaitu ketika adik bungsu Starr yang berusia tujuh tahun menodongkan pistol kepada orang-orang disekitarnya setelah berhasil merebut pistol dari saku belakang celana ayahnya.
Seketika orang-orang tertegun tidak percaya dan kaget seorang anak berani menodongkan pistol yang berisi peluru yang dapat mengeluarkan isi pelurunya kapanpun Ia menarik pelatuknya, namun karena bingung dan sedih akhirnya anak tersebut meletakkan pistol milik ayahnya dengan hati-hati ke jalanan setelah starr berkata pada polisi yang siap menembaki adiknya sembari berkata pada polisi
 " Cukup, berapa banyak nyawa lagi yang harus menjadi korban dari kami agar kalian mengerti !!"

Yaaa itulah pesan penting yang ingin disampaikan melalui film ini.
"T-H-U-G-L-I-F-E.... Kebencian yang kau berikan kepada seorang anak kecil, mengacaukan dan mengancam semua orang, dialah Sekani. Bukan kebencian yang kau beri tapi Kebencian yang kita berikan"

Sudah selayaknya kita bersama hidup rukun dalam damai dengan menghargai setiap perbedaan diantara kita.
STOP RASIALISME !


2 comments:

  1. Isu rasis ini sepertinya klasik ya, karna smapai hari ini pun masih ada, dalam kehidupan nyata. Sedih sebenarnya, tapi aku sendiri merasa terkadang rasis, meski tanpa maksud ke arah sana, hanya kurang berpikir panjang saja. Masih banyak sih yang harus dipelajari dan dibiasakan. Peer banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba betul banget sudah dari dulu..thanks sudah berkunjung 😊

      Delete