Monday, June 22, 2020

UPAYA BERSAMA DALAM MENGHADAPI ANCAMAN COVID-19 DAN KARHUTLA DIMUSIM KEMARAU



 


Musim kemarau sudah didepan mata, menurut prediksi BMKG sendiri musim kemarau akan terjadi dibulan Mei hingga Oktober 2020 nanti.
Memang saat ini dibeberapa daerah di tanah air masih sering turun hujan bahkan sampai menimbulkan banjir, namun tahukah Anda bahwa berdasarkan pantauan titik api oleh Satelit Tera Aqua LAPAN mengindikasikan sudah terdeteksi hingga 700 titik hotspot sejak awal bulan Mei hingga 11 Juni 2020 di tiga propinsi terbanyak yaitu Riau 263 titik, Sumsel 102 titik, Kepulauan Riau 99 titik dan Jambi.    

Masalah di Musim Kemarau


Sebetulnya pergantian siklus Musim Hujan ke Musim Kemarau merupakan siklus alami yang normal dan pasti terjadi setiap tahunnya dan sudah sepatutnya kita sebagai manusia harus pandai-pandai bersyukur atas segala pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa.

Permasalahanpun datang dari manusia sendiri, sadar atau tidak manusialah yang paling bertanggung jawab atas kerusakan yang sering terjadi dikedua musim tersebut.

Seperti saat musim hujan tiba, manusia akan kerepotan dengan bencana banjir yang disebabkan pembuangan sampah kesaluran air sehingga saluran air tersumbat, penebangan pohon, penggundulan kawasan hutan secara liar sehingga menghilangkan fungsi dari akar pepohonan yang sekiranya dapat mengikat jumlah air dalam jumlah banyak, serta juga dapat menghasilkan kualitas udara yang lebih bersih dan sejuk. 
 
Dampak lain yang tidak terhindarkan akibat penggundulan lahan yaitu terjadinya tanah longsor pada daerah lereng dan tebing yang juga sering memakan korban jiwa.

Masalah yang tidak kalah serius saat musim kemarau tiba, manusia akan kerepotan dengan masalah kekeringan seperti sulitnya mendapatkan air bersih, lahan pertanian menjadi kering sehingga banyak petani yang kemudian gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan gambut yang menghasilkan kabut asap dalam jumlah banyak dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.  

Penyebab Utama Kabut Asap oleh Lahan Gambut yang Terbakar


Mengapa kawasan gambut menjadi penyebab utama kabut asap ?

Semula saya juga mengira bahwa kabut asap diakibatkan oleh kebakaran material hutan seperti rumput, ranting dan pepohonan kering, baik yang dilakukan oleh individu maupun korporasi. 

Namun, menurut Badan Restorasi Gambut (BRG) sesungguhnya kabut asap di Indonesia banyak disebabkan oleh kebakaran yang terjadi di lahan gambut. 

Gambut


Gambut merupakan bahan-bahan organik yang terbentuk secara alami dari sisa-sisa tumbuhan berkayu, terurai secara tidak sempurna dan menumpuk disatu tempat. Dengan material ketebalan tertentu, di Indonesia sendiri ketebalannya mencapai 20 meter. 
Lahan gambut biasanya terdapat pada rawa, diantara dua sungai dan antara sungai dan laut. Kemudian material gambut menumpuk selama ribuan tahun, membentuk kubah dan kaki-kaki gambut.


Gambut bersifat seperti spons, menyerap air dan setelah penuh kemudian menyebarkan air dalam jumlah banyak ke daerah sekitarnya.
Hal ini membuat lahan gambut sangat basah dengan kandungan karbon yang tinggi. 

Masalah kemudian timbul saat lahan gambut dibuka, dengan menebang pohon, membakar atau membuat kanal-kanal untuk mengalirkan air dengan tujuan untuk mengeringkan air yang terkandung dalam lahan gambut untuk ditanami kembali. 
Kanal-kanal mempercepat air yang tersimpan kemudian mengalir ke luar akibatnya lahan gambut perlahan mengering.

Saat pembukaan lahan dilakukan dalam skala besar, terus menerus dibakar dan dikeringkan, akibatnya api mudah membakar lapisan gambut yang mengering.Sementara lapisan yang terbakar berada dalam lapisan bawah tanah sehingga sulit untuk dipadamkan. 
Bara api dalam dilapisan gambut bisa bertahan hingga berbulan-bulan. 

Inilah yang kemudian melepaskan kabut asap dalam jumlah besar dengan jangka waktu yang panjang.  

                                                                                            Sumber : Badan Restorasi Gambut 


Hal inilah yang kemudian yang meningkatkan suhu bumi menjadi semakin panas. 

Seperti halnya di lingkungan tempat saya tinggal yang merupakan kawasan perkebunan karet PT. LONSUM di Kabupaten Bulukumba, 
suasana yang tadinya terasa sangat sejuk dan dingin harus berbanding terbalik disaat musim kemarau tiba. 

Hamparan luas pepohonan karet ternyata tidak lagi berperan banyak dalam menciptakan suasana sejuk dan dingin, jika dibandingkan selama sepuluh tahun terakhir, yang merupakan dampak dari meningkatnya suhu bumi. 

  

Selain itu, Duka lain yang masih segar diingatan saya yaitu disaat harus menyaksikan banyaknya hewan dan satwa liar yang hidup di hutan kebingungan mencari tempat aman saat terjadi kebakaran hutan, beruntunglah hewan yang sempat tertolong oleh polisi hutan tetapi sayangnya banyak juga hewan yang mati akibat terpanggang api, belum lagi korban jiwa seperti balita yang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) akibat menghirup asap yang terlalu banyak, hingga Negara kita harus kembali mengulang ‘mengekspor’ asap ke Negara tetangga yang sejatinya telah terjadi sejak tahun 2015 lalu. 

Selain mengakibatkan kerusakan yang cukup parah dari segi lingkungan, kerugian akibat karhutla diberbagai bidang juga tidak terhindarkan.

Tentunya kita semua tidak mengingikan berbagai dampak buruk akibat kebakaran hutan dan lahan akan kembali lagi terulang di tahun 2020.

Apalagi hingga saat ini kita semua masih harus berjuang dalam memutus rantai penularan virus covid-19 yang sejak akhir tahun 2019 mulai mewabah dan telah menyebar luas hampir ke seluruh Negara di dunia.

Covid-19

Di Indonesia sendiri, untuk kasus positif pertama virus corona yaitu sekitar akhir bulan Januari, sedikit terlambat jika dibandingkan dua Negara jiran Singapura dan Malaysia yang sudah terdampak duluan jauh hari sebelum kasus positif pertama di Indonesia ditemukan.

Parahnya kedua bencana tersebut yaitu covid-19 dan kebakaran hutan dan lahan, dikhawatirkan akan terjadi secara bersamaan ini dimusim kemarau tahun ini. 

Hal ini tentunya sangat meresahkan kita semua, karena seperti yang kita ketahui bersama virus covid-19 dan asap akibat kebakaran hutan dan lahan, sama-sama menyerang system saluran pernapasan bahkan hingga level yang sangat serius dan dapat menyebabkan kematian.
Berdasarkan data terakhir tanggal 21 Juni 2020 pukul 15:45 WIB,  jumlah penderita positif virus covid-19 mencapai 45.891 orang.
 Sedangkan dari pihak WHO sendiri, melalui presskonference yang diwakili oleh SOUMYA SWAMINATHAN kamis lalu, menyatakan bahwa vaksin untuk virus covid-19 akan mulai tersedia akhir tahun 2020, itu berarti kita sudah memasuki musim kemarau sebelum vaksin diedarkan oleh WHO. 

Lalu apa saja persiapan pemerintah kita saat ini, kemudian tindakan seperti apa yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat guna bersama mencegah ancaman dampak serius dari kedua bencana tersebut.

Dimulai dari hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk mencegah penyebaran virus covid-19, diantaranya : 
  1. Sering mencuci tangan. Rajinlah mencuci tangan dengan sabun dan akan lebih efektif jika dikerjakan selama 20 detik, ketika tidak mendapatkan air untuk mencuci tangan bisa juga dengan menggunakan hand sanitizer dengan kadar alcohol 70% yang efektif untuk membunuh kuman, virus dan bakteri ditangan. 
  2. Jaga jarak. Ketika berada di luar rumah jaga jarak hingga 1 – 2 meter dari orang lain disekitar Anda.
  3. Hindari terlalu sering menyentuh area wajah dengan tangan.
  4. Jika sakit flu hingga mengalami gangguan pernapasan, sebaiknya tetap di rumah jika bertambah parah segera ke pusat layanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis.   


Prestasi pemerintah dalam menghadapi kasus karhutla hingga saat ini, diantaranya :

1. Teknik modifikasi cuaca oleh BPPT

                                                                                            Sumber : @sawitbaik.id 

2. Upaya Penanggulangan Karhutla

                                                                                                                Sumber : @sawitbaik.id 

3. Upaya Penegakkan Hukum

                                                                                                                         Sumber : @sawitbaik.id 

Belajar dari pengalaman kebakaran hutan dan lahan dari tahun-tahun sebelumnya, pemerintah telah mempersiapkan berbagai langkah antisipasi diantaranya yaitu, 
  1. Teknik Modifikasi Cuaca ( TMC ) yang dilakukan KLHK dalam rangka memperpanjang bulan atau hari basah utamanya di kawasan gambut atau daerah rawan seperti Riau, Jambi dan Sumatera Selatan.
  2. Persiapan satgas karhutla sebagai garda terdepan dengan mulai menjaga kelembaban kawasan gambut, menyiapkan perangkat alat pemadam kebakarannutamanya di daerah rawan, dengan melibtakan banyak pihak mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah (Gubernur, BPBD, KLHK, Polri, Babinsa, Manggala Agni ).  
  3. Sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai media, hingga dengan menggandeng tokoh agama.
  4. Menyediakan stok masker yang cukup di daerah rawan. 
  5. Aksi penanganan karhutla ditengah pandemic dilakukan dengan tetap memperhatikan protocol kesehatan dan melakukan penyemprotan desinfektan organic.
Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi (BLI) KLHK telah memproduksi desinfektan dari cuka kayu dan bamboo (asap cair) dan hand sanitizer dengan formula asap cair ( cuka kayu ), borneol, etanol dan gliserol.  

KBR ‘Inspiratif dan Terpercaya’ Terverifikasi oleh Dewan Pers

Melalui siaran berita KBR (Kantor Berita Radio) yang saya dengar melalui podcast disitus kbr.id, ada banyak info menarik dari ketiga narasumber yang kompeten yaitu :
  1. Kasubdit Pencegahan Karhutla-Direktorat PKHL, Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK Anis Aliati
  2. Guru Besar Perlindungan Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, Prof. Bambang Hero Saharjo. 
  3. dr. Feni Fitriani Sp. P (K), Ketua Pokja Paru dan Lingkungan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 

Melalui obrolan singkat selama kurang lebih 50 menit itu, diawali dari pemaparan ibu Anis Aliati yang memaparkan terjadinya penurunan kasus karhutla jika dibandingkan tahun sebelumnya dikarenakan telah dioptimalkannya berbagai langkah pencegahan karhutla, seperti jika terdeteksi hotspot yang terdeteksi oleh satelit tera akan dicek langsung ke lapangan oleh LAPAN. 

Dilanjutkan oleh prof. Bambang, berdasarkan penelitian kasus karhutla didominasi oleh kegiatan masyarakat atau korporasi yang melakukan pembakaran lahan tanpa terkendali untuk pembukaan lahan. 

Selain menimbulkan masalah lingkungan, asap hasil kebakaran itu juga menghasilkan banyak gas beracun, seperti yang dikenal yaitu furan dan hydrogen sianida, berdasarkan hasil penelitian beliau di Riau, Sumsel dan Jambi.

Selain menimbulkan masalah kesehatan, kerugian dari segi materipun juga tidak sedikit jumlahnya. 
Jika diperiode tahun 2015 kerugian materi mencapai 200 triliun, bersyukur ditahun 2019 sudah jauh berkurang hingga 75 triliun dan target ditahun 2030 harus berkurang lagi hingga 29%, tambah Prof. Bambang.

Selain itu, diwawancarai secara terpisah dr. Feni juga menyampaikan kepada KBR bahwa ancaman asap karhula akan memperparah kualitas udara, apalagi saat ini kita masih menghadapi  wabah covid-19, yang sama-sama menyerang system pernapasan. 
Sehingga yang dapat dilakukan oleh masyarakat di daerah terdampak untuk bisa mendeteksi sejak awal ketika udara bersih telah tercemar asap dampak karhutla, sebagai contoh keberadaan sebuah gunung yang kemudian tidak jelas terlihat akibat terbatasnya jarak pandang yang cukup jauh. 


Pemakaian masker untuk mencegah partikel yang berukuran sangat kecil yang dapat terhirup kedalam tenggorokan hingga ke paru-paru. 
Terakhir menurut dr. Feni, untuk sebaiknya tidak bepergian atau mengurangi kegiatan di luar rumah, jika ada urusan yang mendadak perhitungkan jarak tempuh dan segera pulang ketika urusan di luar rumah telah selesai.  

Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, karena itu pemerintah dan seluruh stakeholder yang terlibat termasuk masyarakat harus bekerja bersama, agar apa yang kita khawatirkan tidak sampai terjadi. 

Referensi :
1. Badanrestorasigambut.go.id
2. Kbr.id
3. Instagram @sawitbaik.id 
4. Gambar : dokumentasi pribadi dan Canva.  

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). syaratnya, bisa Anda lihat di sini



No comments:

Post a Comment