Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gaya Hidup Maksimal Dengan Bertransaksi Digital

Gaya hidup maksimal dengan bertransaksi digitalPengalaman pertama kali saya bertransaksi digital yaitu ditahun 2012, waktu itu saya masih menggunakan kartu ATM yang digesekkan ke mesin EDC (Electronic Data Capture) dan proses saya bertransaksi saat itu sama saja jika dikatakan belanja dengan kartu debet. 






Jadi kartu ATM dan kartu debet adalah sama, satu kartu dengan nama yang berbeda tergantung penggunaanya. Jika dipakai mengoperasikan mesin ATM maka disebutlah kartu ATM sedangkan jika dipakai untuk pembayaran dimerchant yang menyediakan mesin EDC maka namanya kartu debet. 

Saat itu saya sedang berbelanja di sebuah toko keperluan baby dan anak, setelah belanja ternyata masih ada barang yang kelupaan untuk saya beli tapi kebetulan uang cash saya pegang tidak cukup lagi tapi saya ingat masih punya uang di kartu ATM, dan akhirnya oleh sang pemilik toko si cici yang cantik itu olehnya saya diberi saran untuk menggunakan kartu ATM saya saja yang akan terpotong sesuai berapa jumlah belanjaan saya. 

Sedikit ada rasa was-was karena baru pertama kali saya berbelanja dengan kartu ATM saya, setelah belanjaan saya beres kemudian saya coba cek ke mesin ATM memastikan uang dalam ATM saya berkurang sesuai nominal belanjaan saya dan ternyata iya pas sejak saat itu sayapun sering berbelanja dengan kartu ATM saya jika memang dibutuhkan. 

Beberapa tahun berlalu proses pembayaran dengan transaksi digitalpun semakin berkembang. Jenis pembayarannya pun semakin beragam begitu juga dengan penyedia applikasi dompet digital dan yang paling terbaru dan sedang gencar disosialisasikan oleh Bank Indonesia yaitu transaksi dengan kode QRIS yang menurut data per februari 2021 jumlah merchant pengguna QRIS sudah mencapai 6 juta merchant. 


Tinggal di kampung di pelosok daerah setahun yang lalu bertransaksi dengan dompet digital belum begitu familier dan profesi baru sebagai blogger dan influencerpun membuat saya sering kebingungan ketika mendapat bayaran melalui applikasi GoPay atau kadang juga dengan OVO. 

Iya saya suka bingung sendiri sambil berpikir akan saya belanjakan dimana uang yang ada dalam dompet digital saya ini, mau belanja online ongkirnya mahal begitulah kalau tinggalnya di kampung berat di ongkir.

Fyi di kampung saya ini, yaitu Kabupaten Bulukumba sangat sulit atau bahkan tidak akan kita jumpai metode pembayaran digital atau non-tunai di pasar, toko-toko apalagi warung kecil, tidak seperti di ibu kota bahkan warteg/warung makan saja sudah bisa transaksi pakai dompet digital. 

Di sini jika ingin bertransaksi digital kita harus belanja ke alfamart atau indomart dulu, itupun hanya berada di titik-titik keramaian ibukota kabupaten dan hanya menerima pembayaran dengan akun GoPay saja. Tapi saya sendiri jarang belanja ke sana karena jaraknya yang cukup jauh dari rumah, sehingga yang sering saya lakukan agar dapat membelanjakan uang dari dompet digital saya yaitu dengan mentransferkan hampir semua isi saldo dompet digital saya ke rekening bank yang saya miliki baru kemudian akan saya tarik dari ATM (ampuun ribet yaaah).

Tapi itu kisahku setahun yang lalu, memasuki tahun 2021 awal bulan Januari kemarin saat hendak membayar barang belanjaan ke toko dekat rumah sudah bisa bayar pakai scan kode QRIS. Pikir saya yaa sudah saatnya kita yang tinggalnya di kampung meng-upgrade gaya hidup lebih modern sedikit dengan bertransaksi digital dengan dompet digital. 

Dan kerennya lagi belanja di toko dekat rumah ku itu tidak ada jumlah minimal belanja, berbeda dengan belanja di minimarket mesti belanja minimal tigapuluh ribu dulu baru bisa bayar pakai kartu debet bank bri, tapi kalau pakai kartu debet bank luar kata mba kasirnya minimal belanja seribu rupiahpun boleh. 

Itu berarti saya bisa langsung belanja dong dengan menggunakan dompet digital saya walau hanya untuk membeli garam sekalipun di toko dekat rumah hehe, iya kan katanya tidak ada jumlah minimal pembelian. 

Sangat tidak mengherankan jika di kota-kota besar sangat mudah kita jumpai metode pembayaran dengan sistem transaksi digital atau nontunai, namanya saja kota tentu gaya hidup orang-orangnya juga sudah modern. Namun jika kemudian sistem pembayaran yang hanya dengan mengscan kode QR lewat Smartphone bisa dijumpai di sebuah kabupaten yang berjarak sangat jauh dari ibukota provinsi, maka hal tersebut merupakan sebuah pencapaian yang tentu sangat baik, sebab penggunaan sistem pembayaran dengan dompet digital ini akan menjadi kebangkitan UMKM di kota-kota kecil dan pelosok desa agar segera melek digital. 

Musdalifa Hamzah
Musdalifa Hamzah Blessed mom of 3 awesome kids. From Bulukumba Makassar

Berlangganan via Email